Sabtu, 20 Februari 2016

Strategi Pemilihan Lokasi Bisnis Retail

Posted By: Rifki Bakhtiar - 2/20/2016
strategi pemilihan lokasi bisnis perusahaan retail, alfamidi, giant, superindo
Toko modern adalah toko dengan self service system, sistem pemasangan harga pasti (tanpa tawar- menawar layaknya pasar tradisional), dan menjual bermacam-macam jenis produk secara ritel/ eceran. Toko modern dapat berbentuk minimarket, supermarket, department store, hypermarket, speciality store, dan perkulakan/ grosir (Purnomo, dkk 2013). Toko modern diartikan toko dengan sistem pelayanan mandiri, menjual berbagai jenis barang secara eceran yang berbentuk Minimarket, Supermarket, Department Store, Hypermarket ataupun grosir yang berbentuk perkulakan (Permendag RI No.70 tahun 2013)

Keputusan lokasi bergantung pada jenis bisnis. Untuk keputusan lokasi industri, strategi yang digunakan adalah strategi untuk meminimalkan biaya meskipun inovasi dan kreativitas juga penting. Untuk usaha eceran dan pelayanan jasa secara profesional, strategi yang dipakai adalah difokuskan pada memaksimalkan profit pendapatan. Meskipun begitu strategi pemilihan lokasi penyimpanan atau lebih dikenal dengan DC (District Centre) dapat dihitung dari kombinasi antara biaya dan kecepatan pengiriman. Tujuan strategi lokasi adalah bagaimana caranya manfaat lokasi menjadi maksimal untuk perusahaan (Heizer & Render, 2009).

Keputusan lokasi bergantung pada jenis bisnis. Untuk keputusan di mana lokasi industri itu dibangun, strategi yang dipakai pada umumnya adalah strategi untuk meminimalkan biaya (low cost), meskipun kreativitas dan inovasi juga penting. Untuk bisnis dibidang perusahaan yang menjual secara eceran/ retail maupun pelayanan jasa profesi, strategi yang dipakai disasarkan pada bagaimana memaksimalkan profit pendapatan. Walaupun demikian, strategi lokasi pemilihan gudang/ cabang/ gerai toko bisa dipilih penentuannya berdasarkan seberapa besar biaya yang dikeluarkan serta seberapa cepat pengiriman produk ke pasar. Tujuan strategi pemilihan lokasi adalah agar memaksimalkan manfaat lokasi bagi perusahaan.

Lokasi dan Biaya

Karena lokasi berpengaruh pada biaya dan menentukan seberapa besar profit yang akan dihasilkan, maka lokasi sepenuhnya memiliki power yang kuat untuk menentukan strategi bisnis perusahaan berhasil ataukah hancur. Keputusan lokasi yang berdasarkan pada strategi biaya rendah (low-cost) membutuhkan pertimbangan yang cermat. Saat manajemen telah memilih suatu lokasi dioperasikan, banyak biaya yang menjadi tetap dan sulit dikurangi. Oleh karena itu, manajemen memikirkan dengan keras untuk menetapkan lokasi dan fasilitas pendukung yang optimal merupakan investasi yang baik.

Lokasi dan Inovasi

Saat inovasi, kreativitas, dan investasi R&D (research and development) bersifat penting bagi strategi operasi, fokus bagaimana kriteria lokasi tersebut cocok ataukah tidak akan dapat berubah, dari yang pada mula-nya berfokus pada biaya, menjadi berfokus pada inovasi. Sifat yang mempengaruhi inovasi dan daya saing ada 4 jenis, diantaranya:
1. Adanya input berkualitas tinggu dan spesifik, seperti kemampuan ilmiah dan teknik
2. Lingkungan yang nyaman dan kondusif bagi investasi dan persaingan lokal yang ketat secara adil
3. Tekanan dan pengetahuan / wawasan yang diperoleh dari pasar lokal yang telah memiliki pengalaman
4. Adanya industr/ usaha lokal yang saling berhubungan dan mendukung

Sujana (2012) menjelaskan bahwa lokasi yang strategis adalah lokasi yang mempunyai potensi profit/ keuntungan saat ini dan yang akan datang. Nilai strategis lokasi bersifat relatif. Suatu lokasi dapat jadi cocok dan strategis untuk suatu bisnis tertentu, tetapi belum tentu untuk bisnis yang berbeda baik dari jenisnya ataupun manajemennya. Keputusan penentuan pemilihan lokasi dapat berpengaruh besar pada biaya-biaya yang akan dikeluarkan, di mana kesalahan menentukan lokasi bisa berarti investasi yang sia-sia (terbuang percuma).

Faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan lokasi yang dikemukakan oleh Heizer dan Render (2009), diantaranya:

1. Produktivitas Tenaga Kerja
Ketika memilih suatu lokasi tertentu, manajemen mungkin menginginkan dengan tingkat upah yang rendah pada suatu daerah. Namun dengan tingkat upah yang rendah tersebut, dimungkinkan yang didapati karyawan memiliki tingkat pendidikan yang rendah atau kebiasaan kerja yang buruk. Begitu juga karyawan yang tidak dapat atau tidak konsisten dalam tanggungjawab bekerja di perusahaannya, mereka tidak memberikan sumbangsih positif bagi organisasi walaupun mendapatkan upah yang rendah.

2. Risiko Nilai Tukar Mata Uang
Perusahaan mengharapkan pemberian upah yang rendah kepada buruh dan produktifitas memberikan nilai ekonomis, namun dengan adanya tingkat nilai tukar yang tidak menguntungkan dapat menghilangkan penghematan yang telah dilakukan. Perusahaan biasanya dapat memperoleh keuntungan dari nilai tukar yang menguntungkan dengan memindahkan pabriknya atau dengan mengekspor produk jadinya ke negara asing. Walau demikian , kurs mata uang asing  di hampir semua negara terus mengalami naik-turun/ berfluktuasi.

3. Biaya-biaya
Pengkategorian biaya lokasi dapat dibagi menjadi dua yaitu biaya nyata dan biaya  tidak nyata. Biaya nyata adalah biaya-biaya yang dapat di identifikasi, ditelusuri langsung dan dihitung cepat. Biaya nyata meliputi biaya layanan umum, tenaga kerja yang dipekerjakan, bahan baku untuk diproduksi, berbagai pajak yang harus dikeluarkan, penyusutan-penyusutan aset, serta biaya lain yang dapat di identifikasi oleh departemen accounting, finance, dan pihak manajemen. Sedangkan Biaya tidak nyata adalah biaya yang tidak riil yang meliputi pendidikan, sikap masyarakat terhadap industri dan perusahaan, fasilitas transportasi umum, serta kualitas dan sikap calon pekerja. Biaya tidak nyata juga termasuk variabel kualitas hidup seperti iklim/ cuaca dan kelompok olahraga yang dapat mempengaruhi proses rekrutmen pekerja.

4. Risiko Politik, Nilai, dan Budaya
Risiko politik berhubungan dengan kemungkinan naik turunnya sikap pemerintah nasional, negara bagian, dan lokal terhadap status kepemilikan swasta dan intelektual, penetapan zona area, polusi, serta stabilitas ketenagakerjaan. Posisi pemerintah saat keputusan pemilihan lokasi diputuskan mungkin berlangsung cepat. Walaupun demikian pihak manajemen mungkin mendapati tindakan ini dapat dipengaruhi oleh bagaimana pola kepemimpinan mereka sendiri. Sikap karyawan mungkin berbeda ditiap negara maupun ditiap daerah. Dilain pihak sikap ini dapat berpengaruh pada keputusan perusahaan apakah akan memberikan penawaran atau bentuk kompensasi pada pekerja yang ada sekarang jika perusahaan pindah ke lokasi baru. Salah satu tantangan terbesar keputusan operasi global adalah harus memahami dan membaur dengan budaya negara lain. Perbedaan budaya bekerja para tenaga kerja dan pemasok/ supplier dalam hal ketetapan waktu bekerja maupun pendistribusian proses produksi membuat perbedaan besar dalam jadwal produksi dan pengiriman.

5. Kedekatan pada Pasar
Bagi sejumlah perusahaan, lokasi usaha yang berdekatan dengan pelanggan / konsumen adalah sangat penting. Organisasi pelayanan/ jasa seperti kantor pos, ekspedisi, tukang becak, ojek, atau pencukur rambut merasa bahwa kedekatan lokasi bisnis mereka dengan pasar merupakan faktor lokasi utama. Perusahaan manufaktur merasa dengan dekatnya mereka dengan pelanggan/ konsumen ketika biaya pengiriman barang jadi begitu mahal atau sulit (mungkin disebabkan produk yang dikirim banyak, berat, atau mudah pecah) merupakan hal yang sangat berguna. Selain itu dengan produksi yang just in time pemasok berharap lokasi yang dekat dengan pelanggan.

6. Kedekatan pada Pemasok
Perusahaan memilih pabrik yang didirikannya berada dekat dengan perusahaan yang menyediakan barang mentah yakni para pemasok dikarenakan faktor-faktor: (1) barang– barang yang mudah busuk, (2) biaya transportasi, (3) jumlah produk yang sangat banyak. Para penghasil roti, susu, sayur-sayuran dan makanan laut beku berhubungan dengan barang mentah yang mudah busuk sehingga mereka kerap berlokasi dekat pemasok. Perusahaan yang bergantung pada proses input yang berupa bahan mentah yang berat atau yang berjumlah sama (seperti produsen baja yang menggunakan batu bara dan biji besi) harus membayar biaya transportasi yang tidak murah sehingga biaya transportasi menjadi faktor penting.

7. Kedekatan pada Pesaing
Jika kita melihat dengan seksama, perusahaan retail rata-rata saat ini lebih senang berdekatan dengan para pesaingnya. Jika sumber daya utama ada di wilayah tersebut, maka kecenderungan adanya pengelompokan atau clustering sering terjadi. Sumber daya ini meliputi sumber daya alam, informasi, modal proyek, dan bakat

Penentuan lokasi untuk perusahaan yang telah menempatkan mengoperasikan usahanya secara go internasional adalah tidak sederhana dan semudah yang dibayangkan. Keputusan memilih lokasi keluar melebihi batas Negara (going international), yang sebenarnya keputusan penentuan lokasi bagi perusahaan yang mengoperasikan usahanya secara global dimulai dari memperhitungkan berbagai faktor untuk memilih Negara mana, dilanjutkan untuk memilih wilayah sampai memilih tempat. Adapun berbagai faktor yang mempengaruhi tersebut diantaranya adalah sebagai berikut  :

Keputusan pemilihan lokasi negara mana usaha tersebut akan beroperasi, maka adapun faktor yang dipertimbangkan :
1. Risiko politik di negara yang dihadapi, peraturan-peraturan dan hukum yang berlaku, sikap pemerintah, serta insentif pemerintah.
2. Permasalahan budaya dan ekonomi , termasuk budaya korupsi
3. Lokasi pasar berada di mana karena produk yang telah diproduksi/ dihasilkan harus dapat diserap oleh pasar sehingga produk jadi tersebut terjual agar keberlangsungan perusahaan dapat terjamin.
4. Adanya tenaga kerja, upah buruh, produktifitas, karena ketidakadanya tenaga kerja adalah masalah sangat vital bagi perusahaan.
5. Ketersediaan supplier/ pasokan, komunikasi dan sumber daya / energi, hal ini disebabkan ketergantungan perusahaan pada hal-hal tersebut. Ini karena tanpa bahan baku yang dibutuhkan untuk diproduksi, komunikasi yang lancar maupun energi yang mendukung maka perusahaan tidak dapat beroperasi.
6. Resiko kurs mata uang, karena mata uang dari suatu Negara yang sering naik turun kursnya akan berdampak sangat signifikan bagi kegiatan bisnis.

Keputusan pemilihan lokasi di daerah mana akan beroperasi (Region), maka adapun faktor yang dipertimbangkan diantaranya:

1. Keinginan perusahaan
2. Segi-segi yang menarik dari wilayah tersebut (budaya, pajak, iklim)
3. Kebutuhan tenaga kerja, upah karyawan serta sikap terhadap serikat kerja
4. Biaya dan ketersediaan pelayanan umum.
5. Peraturan mengenai lingkungan hidup.
6. Insentif dari pemerintah.
7. Kedekatan dengan bahan baku dan konsumen.
8. Biaya tanah dan pendirian bangunan.

Keputusan Lokasi untuk memilih tempat (site) – Adapun faktor pertimbangannya :

1. Ukuran dan biaya lokasi
2. Sistem transportasi udara, kereta, jalan bebas maupunb jalur laut.
3. Pembatasan daerah.
4. Kedekatan dengan jasa / pasokan yang dibutiuhkan.
5. Permasalahan dampak lingkungan.

Sugiarta (2011) memberikan penjelasan tentang poin-poin yang harus diperhatikan dalam menentukan sebuah lokasi di semua tipe lokasi yang kita pilih, diantaranya:

1. Target Market
Siapakah target market konsumen yang ingin kita layani dan kebutuhan apa saja yang diinginkan harus ditentukan terlebih dahulu sehingga kita tidak mengalami kesulitan dalam memilih lokasi usaha.

2. Kemudahan Akses
Keadaan di mana konsumen potensial mudah datang dari tempat tinggal mereka ke lokasi usaha kita dan sebaliknya serta termasuk adanya kemudahan lahan parkir.

3. Density (Kepadatan Penduduk)
Seberapa besar populasi yang ada di area coverage yang dapat kita layani dan kita penuhi kebutuhannya serta apakah jumlah populasi tersebut mencukupi untuk jenis bisnis ritel yang akan kita kembangkan, misalnya berapa jumlah KK/ kepala keluarga dalam radius 1 km/ 2 km/ 5 km dari lokasi yang akan kita pilih, yang diharapkan bisa menjadi konsumen potensial dari usaha ritel kita.

4. Keamanan Lingkungan Usaha
Melihat ada tidaknya gangguan keamanan, adanya satuan tugas keamanan karena demi kelangsungan dan keamanan usaha dari pencurian, pemerasan, dll.

5. Usaha Penunjang (Supporting Business)
Memperhatikan adanya bisnis-bisnis lain yang bisa mendukung secara positif usaha ritel yang akan kita bangun semisal di area tersebut disediakan ATM, bank, cafe/ restoran, klinik, area bermain karena secara psikologis konsumen bisa memenuhi lebih dari satu kebutuhan dengan mendatangi lokasi tempat usaha.

6. Tingkat Persaingan (Competitor)
Melihat dalam area yang akan kita pilih terdapat pelaku usaha sejenis yang sudah melakukan usaha atau tidak, dan perlu dicermati terhadap kemudahan pesaing baru masuk ke lokasi setelah kita membuka usaha.

7. Kemudahan Perijinan (License)
Pengurusan perijinan di Indonesia untuk usaha ritel cukup banyak tahapan berhadapan dengan instasi, mulai dari tingkat regulasi paling bawah di RT/ RW, Kelurahan, Kecamatan, Kotamadya/Kabupaten, hingga tingkat nasional setingkat menteri. Beberapa ijin yang harus dikantongi oleh pelaku usaha ritel antara lain Ijin Lingkungan/ Ijin Tetangga, Ijin Domisili, IMB Usaha, SIUP, TDP, Ijin Gangguan/HO, IUTM (Ijin Usaha Toko Modern) serta ijin-ijin lain yang hanya berlaku di daerah-daerah tertentu seperti ijin rekomendasi Bupati/Walikota yang terkadang sudah mengacu ke zonasi dan jarak antara pasar tradisional dan toko modern.

Daftar Pustaka:

Heizer & Render. 2009. Terjemahan: Manajemen Operasi. Jakarta: Penerbit Salemba Empat
Sugiarta, I Nyoman. 2011. Panduan Praktis & Strategis RETAIL Consumer Goods. Jakarta:Expose
Peraturan Menteri Perdagangan RI Nomer 70/M-DAG/PER/12/2013 tentang Pedoman Penataan dan Pembinaan Pasar Tradisional, Pusat Perbelanjaan, dan Toko Modern.
Purnomo, Serfianto, dkk. 2013. Sukses Bisnis Ritel Modern. Jakarta: Kompas Gramedia
Sujana, Asep AT. 2012. Manajemen Minimarket. Jakarta: Raih Asa Sukses

Author: Rifki Bakhtiar
Editor: Team Bahterashare .Com

1 komentar:

Blogger Templates Designed by: Templatezy / Sb Game Hacker Apk